TINGKATAN - TINGKATAN HADITS

🍁🍁 *TINGKATAN  - TINGKATAN HADITS* 🍁🍁

🎙 *Pertanyaan:*

1. Apa yang dimaksud dengan *Khobar Ahad*?
2. Kapan dibolehkan menggunakan hadits yang tidak
     shohih seperti hadits dho'if / lemah dan hadits
     Maudhu'/ palsu?
     Apakah hadits tersebut kita tinggalkan sama sekali?
     Ataukah kita memakainya kadangkala saja?

🎙 *Jawaban:*

الحمدلله والصلاه والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أما بعد

1. Bahwasanya hadits Ahad wajib untuk diamalkan apabila berderajat shohih atau hasan dan selamat dari bertentangan dengan hadits yang Sholih yang lebih kuat darinya secara sanad [ jalur haditsnya ] ataupun dalalah [ penunjukannya ],yang demikian ini ditunjukkan oleh Al Qur'an,As Sunnah dan Ijmak.silahkan dilihat fatwa no:8406

2. Sesungguhnya hadits dari sisi boleh diamalkan atau tidak ,terbagi menjadi 4 macam:

🍁1. *Hadits Shohih* yaitu :
Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil yang sempurna penjagaan akan haditsnya,yang berkesinambungan jalurnya tanpa adanya 'illah  dan syadz.

🍀2. *Hadits Hasan* yaitu :
Hadits yang mengumpulkan syarat - syarat hadits Shohih,hanya saja para periwayatnya kwalitasnya dalam penjagaan haditsnya di bawah kwalitas periwayatan hadits shohih.

Dua jenis hadits di atas wajib untuk diamalkan dikarenakan keduanya sama-sama pantas untuk dijadikan argumen dalam mengamalkannya,hanya saja hadits Shohih tingkatannya lebih tinggi daripada hadits hasan.

🍒3. *Hadits Dho'if* yaitu:
Hadits yang tidak terkumpul padanya sifat - sifat periwayatan yang diterima.

Hadits jenis ini tidak dapat dijadikan argumen dalam mengamalkannya ,baik dalam masalah akidah ataupun hukum halal - harom.
Hanya saja sebagian ulama mutakhir membolehkannya dalam masalah fadhoilula'mal [ penyebutan keutamaan - keutamaan amalan ] dengan syarat - syarat berikut :

1. Haditsnya berkaitan tentang penyebutan keutamaan amalan [ bukan mengamalkan amalan ].

2. Tingkat kedho'ifannya [ kelemahannya ] tidak terlalu lemah.

3. Masuknya hadits tersebut di bawah amalan dasar yang diamalkan dalam syariat.

4. Tidak meyakini tetapnya hadits tersebut [ bersumber dari Rosulullah ] ketika menggunakannya,hanya saja dalam rangka kehati - hatian.

🍉 4. *Hadits Maudhu'*[ palsu ] yaitu :
Perkataan yang dibuat - buat atau diadakan oleh sebagian manusia kemudian disandarkan bahwa perkataan tersebut adalah sabda Rasulullah .

Hadits jenis ini tidaklah halal bagi seseorang untuk meriwayatkannya dengan menyandarkan kepada Rosulullah  -shollallahu'alaihi wa sallam- sedangkan dia mengetahui bahwa hadits itu palsu.

Dikarenakan terdapat hadits Samuroh Bin Jundub - rodhiyallahu 'anhu - bahwasanya Nabi - shollallahu'alaihi wa sallam- bersabda :

مَنْ حَدَّثَعَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ [ رواه مسلم ]

Barangsiapa menyampaikan perkataan tentangku dengan perkataan yang di mengetahui bahwa perkataan itu dusta,maka dia termasuk dari salah satu para pendusta [ HR Muslim ]

Imam As Sakhowiy berkata :
"Dan cukup dengan kalimat ini sebagai ancaman keras bagi seseorang yang meriwayatkan hadits ,padahal dia menyangka [ mengetahui ] bahwa hadits itu dusta".selesai

Al Khothib Al Baghdadi berkata :
" Wajib bagi seorang ahli hadits untuk tidak meriwayatkan sedikitpun hadits Maudhu' [ palsu ],begitu pula hadits yang bathil.
Maka barangsiapa yang telah melakukanya sungguh dia telah melakukan dosa yang nyata dan termasuk ke dalam kumpulan para pendusta.selesai

Wallahu a'lam

🌐 http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=13202

🖊 Mutarjim : Juantara
       [ Alumni Ma'had Minhajussunnah, Bogor ]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELAJARAN DARI KISAH 3 ORANG DALAM BERMAJLIS ILMU

ISTRI MENGELUH KARENA BANYAK TAMU

HUKUM BERKUMPUL-KUMPUL DI KELUARGA MAYIT SESUDAH MAYIT DIKUBURKAN